Kelopak Mata Turun Setelah Botox? Kenali Botox Ptosis dan Cara Menanganinya
17 hours ago

Kelopak Mata Turun Setelah Botox? Kenali Botox Ptosis dan Cara Menanganinya

Botox sering dipilih untuk membantu menyamarkan garis ekspresi dan membuat tampilan wajah terlihat lebih segar. Namun, pada sebagian kecil kasus, perubahan yang tidak diharapkan bisa muncul setelah prosedur, salah satunya kelopak mata yang terlihat lebih turun atau terasa berat. Kondisi ini dikenal sebagai ptosis setelah botox.

Melihat kelopak mata turun setelah botox tentu menimbulkan kekhawatiran, terutama jika hanya terjadi pada satu sisi sehingga wajah tampak tidak simetris. Meski demikian, kondisi ini umumnya bersifat sementara dan akan membaik seiring berkurangnya efek botulinum toxin. Tetap diperlukan evaluasi dokter untuk memastikan jenis ptosis dan menentukan penanganan yang sesuai.

Mengapa Kelopak Mata Bisa Turun Setelah Botox?

Botulinum toxin bekerja dengan mengurangi aktivitas otot pada area tertentu. Ketika digunakan dengan indikasi, dosis, dan teknik yang tepat, efek ini dapat membantu mengurangi kontraksi otot penyebab kerutan dinamis. Namun, salah satu efek samping botox pada mata yang mungkin terjadi adalah ptosis atau turunnya kelopak mata.

Masalah tersebut terjadi apabila botulinum toxin menyebar dari area injeksi ke otot levator palpebrae superioris, yaitu otot yang berperan penting dalam mengangkat kelopak mata atas. Ketika aktivitas otot ini berkurang, kelopak mata tampak lebih rendah dari posisi normal.

Itulah mengapa keluhan seperti mata turun setelah botox sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai kegagalan permanen treatment.

Ptosis Setelah Botox: Apa Itu dan Kenapa Bisa Terjadi?

Ptosis setelah botox atau botulinum toxin-induced blepharoptosis merupakan kondisi ketika kelopak mata atas turun akibat melemahnya otot pengangkat kelopak setelah injeksi botulinum toxin.

Menurut tinjauan ilmiah yang dipublikasikan dalam Journal of Cosmetic Dermatology, eyelid ptosis diperkirakan terjadi pada sekitar 2,5 persen pasien yang mendapatkan botulinum toxin tipe A. Kondisinya bisa terjadi pada satu maupun kedua mata.

Beberapa orang mungkin hanya mengalami kelopak yang sedikit lebih rendah. Pada kondisi yang lebih terlihat, pasien mungkin merasakan kelopak berat, bukaan mata mengecil, atau kesulitan membuka mata secara maksimal.

Penyebab Utama Ptosis Setelah Botox

Salah satu penyebab ptosis setelah botox adalah penyebaran botulinum toxin ke area di luar otot yang menjadi target. Risiko ini dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk posisi titik injeksi, dosis, anatomi wajah, dan teknik penyuntikan. Bahkan, literatur menyebutkan komplikasi ini masih mungkin terjadi meskipun prosedur dilakukan oleh praktisi berpengalaman.

Keluhan botox dahi menyebabkan mata turun juga perlu diperiksa lebih lanjut karena tampilan mata turun tidak selalu disebabkan eyelid ptosis. Dalam beberapa kasus, yang terjadi adalah brow ptosis, yaitu posisi alis menjadi lebih rendah akibat perubahan aktivitas otot dahi. Eyelid ptosis dan brow ptosis membutuhkan evaluasi berbeda sehingga tidak ideal jika didiagnosis sendiri berdasarkan tampilan di cermin.

Kapan Ptosis Setelah Botox Biasanya Mulai Terlihat?

Ptosis biasanya tidak muncul tepat setelah penyuntikan. Studi menunjukkan bahwa gejala botox ptosis rata-rata mulai terlihat sekitar 3 sampai 14 hari setelah injeksi. Keluhan dapat berupa salah satu kelopak terlihat lebih rendah, mata terasa berat, atau bukaan mata menjadi berbeda antara sisi kanan dan kiri.

Sebagian laporan klinis juga menunjukkan onset sekitar 2 sampai 10 hari setelah prosedur. Karena itu, bila muncul kelopak mata turun sebelah setelah botox beberapa hari setelah treatment, sebaiknya informasikan kondisi tersebut kepada dokter yang melakukan prosedur.

Jangan Panik, Ini yang Sebaiknya Dilakukan Saat Mengalami Ptosis Setelah Botox

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menghubungi dokter dan menjelaskan kapan Botox dilakukan, area yang diinjeksi, serta kapan perubahan pada kelopak mulai terasa.

Dokter perlu memastikan apakah kondisi tersebut benar-benar eyelid ptosis, brow ptosis, atau perubahan lain di sekitar mata. Evaluasi ini penting karena cara mengatasi kelopak mata turun setelah botox tidak dapat disamaratakan untuk semua pasien.

Hindari menggunakan obat tetes mata sendiri atau mencari treatment tambahan tanpa evaluasi medis. Area mata memiliki struktur anatomi yang kompleks sehingga tindakan koreksi perlu mempertimbangkan posisi kelopak, alis, aktivitas otot, serta prosedur Botox sebelumnya.

Jika ptosis disertai gangguan penglihatan yang signifikan atau keluhan mata lain yang tidak biasa, pemeriksaan sebaiknya dilakukan lebih cepat. American Academy of Ophthalmology menyebut ptosis sebagai efek samping Botox yang lebih jarang tetapi akan mengganggu kemampuan melihat.

Bagaimana Cara Mengatasi Ptosis Setelah Botox?

Dalam banyak kasus, penanganan awal ptosis setelah botox adalah observasi karena efek botulinum toxin tidak permanen. Tinjauan literatur melaporkan sebagian besar kasus eyelid ptosis membaik dalam sekitar 3 sampai 4 minggu, meskipun durasinya berbeda pada setiap pasien.

Pada pasien tertentu, dokter dapat mempertimbangkan obat tetes mata. Obat ini bekerja dengan merangsang otot Müller sehingga dapat membantu meningkatkan posisi kelopak sekitar 1 sampai 3 mm untuk sementara. Namun, bukti klinisnya masih terbatas dan penggunaannya harus berdasarkan pemeriksaan serta pertimbangan dokter.

Seberapa Cepat Kelopak Mata Bisa Membaik Setelah Penanganan?

Kecepatan pemulihan bergantung pada tingkat ptosis, jumlah dan lokasi Botox sebelumnya, kondisi otot, anatomi area mata, serta pilihan penanganannya.

Literatur menunjukkan sebagian besar kasus membaik dalam beberapa minggu. Namun, terdapat pula laporan ptosis yang bertahan lebih lama. Hal ini menjadi alasan mengapa timeline pemulihan tidak sebaiknya disamaratakan pada semua pasien.

Dokumentasi perkembangan dari minggu ke minggu juga lebih bermanfaat dibanding menilai hasil hanya beberapa hari setelah tindakan.

Cara Mencegah Ptosis Sebelum Melakukan Botox

Risiko ptosis setelah botox memang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, tetapi bisa diminimalkan melalui evaluasi anatomi dan teknik injeksi yang tepat.

Sebelum treatment, dokter idealnya mengevaluasi posisi alis dan kelopak, kekuatan otot dahi, asimetri wajah, serta riwayat Botox sebelumnya. Pemahaman anatomi periokular dan penempatan titik injeksi yang tepat merupakan bagian penting dalam mengurangi risiko penyebaran toksin menuju otot pengangkat kelopak.

Karena itu, Botox sebaiknya tidak hanya dipandang berdasarkan jumlah unit yang digunakan. Dosis dan posisi injeksi perlu disesuaikan dengan kebutuhan serta karakteristik wajah masing-masing pasien.

Sudah Mengalami Ptosis Setelah Botox? Segera Atasi dengan Treatment yang Sesuai di Klinik dr Ratna

Mengalami ptosis setelah botox memang membuat khawatir, tetapi kondisi ini tidak selalu permanen dan pada banyak kasus yang membaik secara bertahap. Kuncinya adalah memastikan terlebih dahulu apakah yang terjadi merupakan eyelid ptosis, brow ptosis, atau kondisi lain sehingga penanganannya dapat dipilih secara tepat.

Klinik dr Ratna Surabaya merupakan klinik dermatologi yang menyediakan layanan bersama dokter berpengalaman dan berbagai perawatan kulit serta estetika. Jika mengalami kelopak mata turun atau perubahan tidak biasa setelah Botox, lakukan konsultasi terlebih dahulu untuk mendapatkan evaluasi kondisi secara langsung. Booking konsultasi melalui WhatsApp Klinik dr Ratna atau kunjungi Klinik dr Ratna secara langsung untuk pemeriksaan dan menentukan treatment yang sesuai. Jangan melakukan koreksi sendiri, konsultasikan kondisi lebih awal agar penanganan ptosis setelah Botox dapat disesuaikan dengan kondisi wajah dan kebutuhan Anda.

Hubungi Klinik dr Ratna untuk Dapatkan Facial Treatment Oleh Dokter Profesional!

Kunjungi Klinik dr Ratna dan temukan layanan medis kebutuhan Anda bersama dokter kecantikan dan dermatologist terbaik kami. Buat janji temu sekarang!

Artikel Terkait

Eye Secretome vs Botox: Mana yang Lebih Cocok untuk Kantung Mata dan Keriput?
Area sekitar mata sering lebih cepat menunjukkan tanda kelelahan dan penuaan karena kulitnya tipis, aktif bergerak, serta dipengaruhi paparan sinar matahari, faktor genetik, dan perubahan struktur wajah. Kondisi ini bisa memunculkan kantung mata, kerutan bawah mata, dan garis halus. Eye Secretome dan Botox sama-sama digunakan untuk memperbaiki tampilan area mata, tetapi bekerja dengan cara berbeda. Artikel ini akan mengulas perbedaan Eye Secretome dan Botox secara mendalam, sehingga Anda bisa menentukan mana yang lebih cocok sesuai kondisi kulit dan kebutuhan Anda.