Setiap orang bisa mengalami hair loss karena alasan yang berbeda. Itulah sebabnya treatment yang cocok untuk teman belum tentu akan memberikan hasil yang sama pada Anda.
Berikut beberapa penyebab yang paling sering ditemukan.
1. Stres yang Menumpuk
Saat mendengar kata stres, banyak orang membayangkan pekerjaan yang berat atau masalah pribadi.
Padahal, tubuh juga bisa mengalami stres setelah sakit, menjalani operasi, kurang tidur dalam waktu lama, atau menjalani diet yang terlalu ketat. Yang sering membuat bingung, rambut biasanya tidak langsung rontok saat itu juga. Kerontokan baru terasa satu hingga tiga bulan kemudian. Karena jedanya cukup lama, banyak orang tidak menghubungkannya dengan kejadian yang pernah dialami sebelumnya.
2. Perubahan Hormon
Perubahan hormon juga menjadi salah satu penyebab hair loss yang cukup sering dialami wanita. Misalnya setelah melahirkan, menjelang menopause, mengganti kontrasepsi hormonal, atau ketika mengalami gangguan hormon seperti PCOS maupun penyakit tiroid. Pada sebagian wanita, rambut mulai rontok beberapa bulan setelah melahirkan. Kondisi ini cukup sering terjadi karena tubuh sedang menyesuaikan kembali keseimbangan hormonnya.
Kalau kerontokan disertai haid yang tidak teratur, berat badan berubah tanpa sebab yang jelas, atau muncul keluhan lain, jangan lupa menyampaikannya saat berkonsultasi. Informasi kecil seperti ini sering membantu dokter menemukan penyebabnya.
3 .Pola Makan yang Kurang Mendukung Pertumbuhan Rambut
Rambut juga membutuhkan nutrisi agar bisa tumbuh dengan baik. Saat tubuh kekurangan protein, zat besi, atau nutrisi penting lainnya, rambut sering menjadi salah satu bagian yang terkena dampaknya.
Hal ini cukup sering terjadi pada orang yang sedang menjalani diet ketat, mengalami menstruasi dengan perdarahan banyak, atau berat badannya turun drastis dalam waktu singkat. Meski begitu, bukan berarti semua orang yang rambutnya rontok harus langsung minum suplemen. Penyebabnya perlu dipastikan terlebih dahulu agar penanganannya benar-benar sesuai kebutuhan.
4. Faktor Keturunan
Kalau ibu atau kakak perempuan mengalami rambut yang semakin menipis seiring bertambahnya usia, kemungkinan Anda juga memiliki risiko yang sama.
Jenis kerontokan ini biasanya tidak membuat rambut rontok dalam jumlah besar sekaligus.
Perubahannya justru berjalan pelan. Belahan rambut makin lebar, volume rambut berkurang sedikit demi sedikit, sampai akhirnya baru terasa ketika dibandingkan dengan foto beberapa tahun sebelumnya.
Karena berlangsung perlahan, banyak wanita menganggapnya sebagai hal yang normal akibat usia. Padahal, kondisi ini bisa dievaluasi lebih awal sehingga penanganannya juga lebih terarah.
5. Kebiasaan Mengikat Rambut Terlalu Kencang
Kalau pekerjaan mengharuskan Anda selalu mengikat rambut, coba ingat kembali seberapa kencang ikatan tersebut.
Kuncir yang terlalu rapat, kepang yang terus menarik rambut, atau penggunaan hair extension dalam waktu lama bisa memberikan tekanan pada akar rambut setiap hari.
Awalnya mungkin hanya terasa sedikit nyeri setelah rambut dilepas. Lama-kelamaan, rambut di sekitar garis depan kepala mulai terlihat semakin tipis.
Kebiasaan sederhana seperti mengendurkan ikatan rambut atau sesekali mengganti model rambut bisa membantu mengurangi tarikan pada akar rambut.
6. Masalah pada Kulit Kepala
Kadang yang bermasalah bukan rambutnya, melainkan kulit kepalanya. Kulit kepala yang meradang, sangat berminyak, dipenuhi ketombe tebal, atau terasa gatal terus-menerus bisa mengganggu pertumbuhan rambut.
Karena gejalanya sering mirip, banyak orang hanya berganti-ganti sampo tanpa mengetahui penyebab sebenarnya. Padahal, setiap kondisi membutuhkan penanganan yang berbeda. Ada yang cukup dengan obat oles, ada yang memerlukan obat minum, dan ada pula yang membutuhkan tindakan tertentu sesuai hasil pemeriksaan dokter.
7. Penyakit atau Obat Tertentu
Beberapa kondisi kesehatan, seperti anemia, gangguan tiroid, maupun penyakit autoimun, juga bisa menyebabkan rambut rontok.
Begitu pula dengan beberapa jenis obat.
Kalau Anda merasa kerontokan mulai muncul setelah mengonsumsi obat tertentu, jangan langsung menghentikannya sendiri. Sebaiknya konsultasikan kembali dengan dokter agar penyebabnya bisa dievaluasi dengan aman.