Penyebab Melasma di Wajah: 7 Pemicu yang Sering Diabaikan
1 hours ago

Penyebab Melasma di Wajah: 7 Pemicu yang Sering Diabaikan

Bercak kecokelatan yang muncul perlahan di pipi, dahi, atau area atas bibir sering dianggap sebagai flek hitam biasa. Padahal, perubahan warna tersebut bisa menjadi tanda melasma di wajah, yaitu kondisi ketika warna kulit menjadi lebih gelap pada area tertentu.
Mengetahui penyebab melasma di wajah penting karena melasma tidak hanya dipengaruhi oleh sinar matahari. Perubahan hormon, faktor keturunan, obat tertentu, hingga iritasi akibat skincare juga ikut memicu atau memperburuk kondisinya. Dengan mengenali pemicunya, perawatan bisa dilakukan dengan lebih tepat dan risiko melasma bertambah gelap dapat dikurangi.

Apa Itu Melasma dan Bagaimana Ciri-Cirinya?

Melasma merupakan masalah pigmentasi kulit yang ditandai dengan munculnya bercak berwarna cokelat muda, cokelat tua, atau keabu-abuan. Bercak biasanya muncul secara simetris pada kedua sisi wajah. Kondisi ini terjadi ketika sel yang menghasilkan pigmen kulit bekerja lebih aktif sehingga melanin diproduksi dalam jumlah lebih banyak.
Melasma biasanya tidak menyebabkan gatal, nyeri, maupun perubahan tekstur kulit. Bercaknya cenderung datar dan dapat muncul secara perlahan. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada perempuan serta orang dengan warna kulit sedang hingga gelap.

Perbedaan Melasma, Flek Hitam, dan Bekas Jerawat
Meski sama-sama membuat warna kulit tidak merata, ketiganya memiliki penyebab yang berbeda:
  • Melasma: biasanya muncul simetris dan berkaitan dengan paparan sinar matahari, hormon, serta faktor keturunan.
  • Flek hitam atau solar lentigo: lebih sering disebabkan paparan sinar UV dalam jangka panjang dan biasanya muncul pada area tertentu.
  • Bekas jerawat atau PIH: muncul setelah jerawat mengalami peradangan dan meninggalkan bercak kecokelatan.
Karena penyebabnya berbeda, penanganan setiap kondisi pigmentasi juga perlu disesuaikan.

Area Wajah yang Sering Mengalami Melasma

Melasma paling sering muncul pada area tengah wajah, seperti dahi, pipi, hidung, atas bibir, dan dagu. Menurut DermNet, pola melasma pada area tengah wajah ditemukan pada sekitar 50 sampai 80 persen kasus.
Selain itu, melasma juga muncul terutama pada kedua pipi dan hidung atau mengikuti area rahang. Pola bercak yang muncul pada kedua sisi wajah menjadi salah satu petunjuk yang membantu dokter membedakan melasma dari jenis flek lainnya.

7 Penyebab Melasma di Wajah yang Sering Diabaikan

Tidak ada satu penyebab yang berlaku untuk semua orang. Dalam banyak kasus, beberapa faktor penyebab melasma bisa muncul secara bersamaan.

1. Paparan Sinar Matahari Tanpa Perlindungan Optimal
Paparan sinar ultraviolet merupakan salah satu penyebab melasma yang paling umum. Sinar UV akan merangsang kulit menghasilkan lebih banyak pigmen. Akibatnya, bercak melasma yang sebelumnya mulai memudar dapat kembali terlihat lebih gelap.
Karena itu, perlindungan dari matahari tidak cukup dilakukan hanya ketika pergi ke pantai atau beraktivitas lama di luar ruangan. Sunscreen tetap perlu digunakan secara rutin dalam aktivitas sehari-hari.

2. Perubahan Hormon
Melasma karena hormon cukup sering terjadi, terutama saat kehamilan atau ketika seseorang menggunakan kontrasepsi hormonal tertentu. American Academy of Dermatology menjelaskan bahwa peningkatan hormon estrogen dan progesteron selama kehamilan diduga dapat ikut memicu melasma.
Sebuah tinjauan mengenai melasma juga melaporkan bahwa sekitar 40 sampai 50 persen perempuan dengan melasma mengalami kondisi yang berkaitan dengan kehamilan atau penggunaan kontrasepsi oral.Inilah salah satu alasan melasma juga sering dikenal sebagai mask of pregnancy.

3. Faktor Genetik atau Riwayat Keluarga

Riwayat keluarga dapat menjadi salah satu faktor risiko melasma. American Academy of Dermatology mencatat bahwa dalam penelitian yang melibatkan 324 pasien melasma dari berbagai negara, sekitar 48 persen memiliki anggota keluarga sedarah yang juga mengalami melasma.
Artinya, seseorang yang memiliki riwayat melasma dalam keluarga memiliki risiko lebih tinggi, terutama jika sering terpapar sinar matahari atau mengalami perubahan hormon.

4. Paparan Panas dan Cahaya Tampak

Bukan hanya sinar ultraviolet yang perlu diperhatikan. Cahaya tampak dari lingkungan juga berpengaruh pada warna kulit. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa cahaya bisa merangsang pigmentasi, terutama pada orang dengan warna kulit sedang hingga gelap. Karena itu, panas sebaiknya tidak dianggap sebagai satu-satunya pemicu melasma, tetapi tetap perlu diperhatikan jika bercak terasa semakin gelap setelah sering terpapar suhu tinggi.

5. Penggunaan Skincare atau Kosmetik yang Mengiritasi

Skincare tidak otomatis menjadi penyebab melasma di wajah. Namun, produk yang membuat kulit terus-menerus iritasi bisa memperburuk warna kulit yang tidak merata. Kulit yang terlalu sering mengalami perih, kemerahan, atau mengelupas lebih mudah mengalami pigmentasi setelah peradangan.
Karena itu, menggunakan produk exfoliating atau peeling terlalu sering belum tentu membuat melasma lebih cepat hilang. Jika terlalu agresif, justru bisa membuat kondisi kulit semakin sensitif.

6. Konsumsi Obat-Obatan Tertentu

Beberapa jenis obat menjadi salah satu penyebab munculnya melasma atau membuat kulit lebih sensitif terhadap cahaya. American Academy of Dermatology menyebut obat antikejang, kontrasepsi oral, serta beberapa obat yang membuat kulit lebih sensitif terhadap matahari dapat berkaitan dengan munculnya melasma pada sebagian orang.
Namun, obat yang diberikan dokter tidak boleh dihentikan sendiri hanya karena muncul bercak pada wajah. Jika melasma mulai terlihat setelah menggunakan obat tertentu, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk mencari kemungkinan penyebabnya.

7. Stres dan Kondisi Kesehatan Tertentu

Stres juga sering disebut sebagai salah satu kemungkinan pemicu melasma, meskipun hubungan keduanya masih terus diteliti. Beberapa penelitian juga menemukan adanya hubungan antara melasma dan gangguan tiroid pada sebagian pasien. Namun, bukan berarti setiap orang yang mengalami melasma pasti memiliki masalah tiroid. Pemeriksaan tambahan biasanya baru diperlukan jika dokter menemukan gejala lain yang mengarah pada kondisi tertentu.

Pilihan Perawatan dan Pengobatan Melasma

Perawatan melasma perlu disesuaikan dengan kondisi kulit, kedalaman pigmentasi, serta faktor pemicunya. Dokter akan mempertimbangkan penggunaan bahan seperti hydroquinone, azelaic acid, cysteamine, retinoid, atau bahan pencerah lainnya.
Selain skincare medis, beberapa prosedur seperti chemical peeling atau teknologi laser juga dapat digunakan pada kondisi tertentu.Namun, treatment melasma tidak sebaiknya dilakukan terlalu agresif. Tindakan yang terlalu kuat membuat kulit mengalami iritasi dan justru meningkatkan risiko pigmentasi bertambah gelap. Karena itu, pemeriksaan dokter penting untuk menentukan jenis perawatan yang paling sesuai dengan kondisi kulit.

Kesimpulan

Penyebab melasma di wajah tidak hanya berasal dari satu faktor. Paparan sinar matahari, perubahan hormon, faktor keturunan, cahaya tampak, iritasi skincare, obat tertentu, hingga kondisi kesehatan dapat saling memengaruhi.
Jika bercak kecokelatan semakin tampak atau tidak kunjung memudar meski sudah menggunakan skincare, lakukan pemeriksaan langsung agar dokter mengenali jenis pigmentasi dan menentukan perawatan yang paling sesuai. Klinik dr Ratna menghadirkan konsultasi serta pilihan treatment melasma yang disesuaikan dengan kondisi kulit setiap individu. Lakukan booking konsultasi melalui WhatsApp Klinik dr Ratna, atau kunjungi Klinik dr Ratna untuk informasi dan penanganan lebih lanjut. Dengan evaluasi terlebih dahulu, treatment dapat dipilih sesuai kebutuhan kulit tanpa harus mencoba berbagai prosedur secara bergantian.

Hubungi Klinik dr Ratna untuk Dapatkan Treatment Wajah yang Aman Dengan Dokter Spesialis Profesional!

Kunjungi Klinik dr Ratna dan temukan layanan medis kebutuhan Anda bersama dokter kecantikan dan dermatologist terbaik kami. Buat janji temu sekarang!

Artikel Terkait

Hair Loss pada Wanita: Penyebab yang Sering Tidak Disadari
Setiap keramas rasanya rambut yang rontok makin banyak. Saat menyisir, sisir penuh helaian rambut. Bahkan, ikatan rambut yang dulu terasa tebal sekarang mulai mengecil. Kalau sudah begini, banyak wanita langsung menyalahkan sampo. Ada juga yang buru-buru membeli hair tonic baru atau mencoba berbagai vitamin rambut yang sedang viral. Padahal, rambut rontok tidak selalu berasal dari produk yang dipakai. Justru, penyebabnya sering datang dari dalam tubuh dan tanpa disadari sudah berlangsung cukup lama. Mulai dari stres yang menumpuk, perubahan hormon, pola makan yang kurang seimbang, hingga masalah pada kulit kepala, semuanya bisa memengaruhi siklus pertumbuhan rambut. Karena itulah, rambut rontok sebaiknya tidak hanya ditutup dengan produk perawatan. Yang lebih penting adalah mencari tahu apa yang sebenarnya menjadi penyebabnya.